|
Meredakan "Tangisan" Lambung
|
|
Selasa, 27 November 2007 |
Ternyata bagian tubuh kita yang bisa menangis bukan hanya mata. Lambung misalnya, juga bisa "menangis". Yang keluar bukan air melainkan asam lambung. Penyebabnya , terlalu berat bekerja, pikiran tegang, tidak tenang atau kurang tidur. Bisa juga lantaran kita terlambat makan, mengkomsumsi cabe, kopi atau minuman beralkohol yang terlalu banyak. Kalau di biarkan "menangis" terlalu lama, lambung akan tergerus si asam lambung hingga menyebabkan sakit lambung atau maag. Gejala yang umum dirasakan diantaranya mual, mulas, perih atau kembung di perut, ulu hati sakit. Oh ya, selain karena lambung "menangis", sakit lambung bisa juga disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori.
Berdasarkan penyebab tadi, penyembuhannya dilakukan dengan menetralkan asam lambung, mengurangi produksi asam lambung, mengobati infeksi dan mengurangi rasa sakitnya. Obatnya antasid (menetralkan asam lambung), antihistamin, antikolinergik, demulcent (dapat mengurangi iritasi). Di pasaran kita bisa menemukan obat maag yang cuma mengandung antasid. Tetapi belakangan sudah ada obat maag yang dilengkapi bahan lainnya.Khusus untuk sakit lambung yang disebabkan oleh Helicobacter pylory pengobatannya menggunakan antibiotika.
Penyembuhan maag juga dapat dilakukan dengan herbal. Kunyit misalnya. Secara eksperimental kandungan aktif kunyit, curcumin aktif mencegah dan memperbaiki luka lambung. Selain kunyit, ada lidah buaya (Aloe vera). Gel dalam daunnya yang tebal mengandung zat aktif Aloctin A yang mampu menghambat sekresi asam lambung dan pepsin jika diberikan secara intervena pada tikus.Label: Sekilas info |
posted by Gusna @ Selasa, November 27, 2007  |
|
|
Menu Pilihan
|
|
|
Minggu kemarin Eyang Putri yang tinggal di kampung datang ke Jakarta menengok cucu.Banyak yang dilihatnya selama tinggal di ibukota. Setiap mendapat pengalaman baru, komentarnya selalu menarik untuk dikaji. Kemarin ia diajak makan siang di food court sebuah mall. Kebetulan yang dipilih menantunya adalah restaurant siap saji waralaba dari Jepang. Seperti yang lazim ia lakukan di restaurant, nenek lantas duduk tenang sambil menanti pelayan menawarkan menu yang akan dipesannya. Sementara menantu belanja. Cukup lama menunggu, tak seorang pelayan pun yang menghampirinya. Restaurant macam apa ini? Setiap orang sibuk sendiri-sendiri. Begitu pikirnya..
Melihat ibu mertuanya masih duduk bengong, si menantu lantas menjelaskan cara mendapatkan makanan. " Bu, kita mesti antri dalam barisan itu. Mengambil makan sendiri, lalu bergeser ke makanan-makanan yang tersedia. Ambil apa aja yang ibu suka. Di ujung gang kasir akan menyebutkan berapa yang harus ibu bayar."
Sampai di rumah, kami menunggu komentar nenek atas pengalamannya hari itu. " Wah, di kota besar ini semuanya serba sendiri. Kamu bisa mengambil apa aja yang kamu inginkan , asal bersedia membayar. Persis seperti kehidupan ini. Kita bisa menginginkan kesuksesan, kebahagiaan atau apa saja. Tapi kita tidak akan memperolehnya kalau kita hanya duduk dan diam menunggu. Kita harus berdiri dan mencari sendiri."
Begitulah nenek. Kejadian sekecil apapun, di matanya bisa menjadi perkara besar. Dia benar. Seperti yang dikatakan oleh dokter yang juga wartawan dan penyair Amerika abad ke-19, Josiah Gilbert Holland, "... Tuhan memberi makanan kepada setiap burung, tetapi tidak dengan melemparkannya ke sarang mereka masing-masing."Label: Cermin |
posted by Gusna @ Selasa, November 27, 2007  |
|
|
|
|